YOGYAKARTA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menegaskan bahwa pihaknya akan meminimalisir perbedaan antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS), sebab sudah banyak PTS yang memiliki kualitas jauh lebih baik dibandingkan dengan PTN.

Hal tersebut Menristekdikti katakan pada Kuliah Umum di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Kamis (22/03), yang bertemakan “Kebijakan Nasonal Pendidikan Tinggi Indonesia menghadapi Revolusi Industri 4.0”.

Di kesempatan tersebut Menristekdikti juga mengungkapkan adanya 122 PTN dimana 38 PTN sudah terakreditasi institusi A, 50 PTN belum terakreditasi, dan selebihnya terakreditasi B dan C. Sedangkan jumlah PTS yang sudah terakreditasi A sebanyak 19 Perguruan Tinggi (PT). Januari 2017 sudah dilakukan pasar bebas antara Asia Tenggara termasuk Indonesia, dalam pasar bebas tersebut terdapat 12 sektor dimana salah satunya adalah pendidikan. Demi mempersiapkan globalisasi pendidikan, dibutuhkan adanya pembinaan kepada PT yang dimaksudkan untuk memperkuat dan menciptakan PT dalam negeri yang berkualitas.

Selain itu Nasir juga mengungkapkan bahwa dalam menghadapi revolusi industri faktor penting dalam membangun daya saing bangsa adalah dengan meningkatkan riset, teknologi, dan pendidikan tinggi.

Dan sebagai penutup pada kuliah umumnya Nasir mengingatkan seluruh peserta jika ingin lebih sukses di negeri sendiri maka harus dapat bekerja cerdas, keras, dan ikhlas terutama dibidang ilmu pengetahuan.

Dalam acara Kuliah Umum tersebut turut diserahkan Surat Keputusan (SK) penyelenggaraan Fakultas Pendidikan Kedokteran oleh Menristekdikti kepada Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Rektor UAD.

UAD Terus Berbenah

Rektor UAD Kasiyarno menyampaikan pada sambutannya bahwa saat ini perguruan tinggi yang dipimpinnya sedang terus berbenah. Hal yang menjadi fokus utama adalah peningkatan sumber daya manusia serta peningkatan sarana dan prasarana. Selain itu, UAD sudah berhasil mendapatkan akreditasi A dan konsen meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan menargetkan semua prodi nya yang saat ini masih berakreditasi B dan C akan berakreditasi A.

“UAD sudah mendapat akreditasi A dari BAN-PT dengan nilai yang memuaskan. Tetapi, kami tidak akan berhenti sampai di sini. Sesuai dengan visi, kami berkomitmen terus mengembangkan perguruan tinggi Muhammadiyah ini agar diakui secara internasional dengan dijiwai oleh nilai-nilai Islam,” terang Kasiyarno.

Kasiyarno menambahkan, peran UAD sebagai pelaksana pendidikan tinggi dalam mendukung program Kemenristekdikti kami terus diupayakan. Diharapkan pembangunan gedung-gedung kuliah UAD ini bisa berjalan baik, cepat, dan dapat segera dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir mengungkapkan pula pada sambutannya bahwa kehadiran Fakultas Kedokteran UAD bukan merupakan ambisi atau untuk kepentingan UAD saja. Kehadiran Fakultas Kedokteran UAD bertujuan untuk menciptakan kemajuan masyarakat.

“Kampus membantu mempercepat proses transformasi pembangunan bangsa. Muhammadiyah melalui PTM (Perguruan Tinggi Muhammadiyah) bertujuan membangun masyarakat yang cerdas berkemajuan. Bagi anak bangsa kecerdasan saja tidak akan cukup, tetapi perlu dibekali juga dengan nilai agama dan Pancasila,” ungkap Haedar.

Selain itu, Haedar juag mengatakan bahwa Muhammadiyah dengan 173 Perguruan Tingginya akan terus memperkokoh kemajuan bangsa. “Muhammadiyah terus berupaya menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang berkemajuan, maju dalam konteks pendidikan, ekonomi, dan budaya,” tutur Haedar.

Haedar menambahkan, dalam mewujudkan bangsa yang berkemajuan tidak cukup hanya membenahi fisiknya saja, namun juga aspek-aspek yang membangun peradaban, seperti moral spiritual.

Turut hadir juga pada acara peletakan batu pertama Fakultas Kedokteran UAD dan Kuliah Umum ini Direktur Jenderal Kelembagaan Patdono Suwignjo, Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti, Ketua PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, Koordinator Kopertis Wilayah V Yogyakarta Bambang Supriyadi, dan civitas akademika lainnya. (NDA/HS)

 

 

sumber berita ->  https://ristekdikti.go.id/perguruan-tinggi-dalam-negeri-harus-siap-hadapi-globalisasi-pendidikan/#aPPt5XQmr2X3DJ54.99

Bagikan: